
Berdasarkan Komisi Nasional Stock Assasement (2005) potensi sumber daya ikan (standing stock) yang terdapat diperairan Maluku Utara yang terdistribusi pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 7 (Laut Maluku) dan 8 (Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik) diperkirakan mencapai 1.035.230 ton/tahun. dengan jumlah potensi lestari yang dapat dimanfaatkan (Maximum Sustainable Yield, MSY) sebesar 517.615 ton/tahun yang terdiri dari ikan pelagis besar sebesar 742.617,91 ton/tahun dan demersal 297.047,16 ton/tahun, sedangkan jumlah yang bisa ditangkap (JTB) terdiri dari kelompok ikan pelagis besar sebesar 297.047,16 ton/tahun dan kelompok ikan demersal sebesar 84.836,93 ton/tahun.
Dari perkiraan potensi tersebut menunjukkan bahwa potensi sumberdaya perairan Maluku Utara cukup prospektif untuk dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sampai tahun 2008 tingkat pemanfaatan baru mencapai 414.092,00 ton/tahun atau 80 % dari potensi lestari (MSY) sebesar 517.615 ton/tahun.
Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi perikanan dan kelautan di Provinsi Maluku Utara dan menjadi "Prime mover" karena kontribusinya cukup besar bagi produksi perikanan dan kelautan secara umum. Nilai produksi perikanan tangkap tahun 2008 sebesar 143.165,86 ton dengan nilai produksi sebesar Rp. 1.027.055.577.000. Kegiatan perikanan tangkap menghasilkan berbagai jenis hasil tangkapan berupa ikan bernilai ekonomis penting diantaranya ikan pelagis besar seperti cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna (Thunnus spp), tongkol (Euthynus spp) dan jenis ikan pelagis kecil seperti kembung (Rastrelliger spp), layang (Decapterus spp), tembang (Sardinella spp), selar (Selaroides spp) dan beberapa jenis ikan pelagis kecil lainnya yang ditangkap masyarakat nelayan disekitar perairan pantai. Beberapa jenis ikan demersal yang diusahakan oleh masyarakat nelayan dan pengusaha perikanan antara lain kerapu (Epinephelus spp), lolosi (Caesio spp), baronang (Siganus spp), kakatua (Scarus spp), kakap (Lates spp) serta jenis-jenis lainnya yang belum dikomersial dan masih terbatas pada konsumsi masyarakat.
Khusus untuk pelagis besar (tuna dan cakalang), daerah penangkapan di Perairan Maluku Utara adalah:
- Di Ternate, daerah penangkapan meliputi perairan sekitar Pulau Hiri dan Laut Maluku.
- Di Tidore, daerah penangkapan meliputi perairan sekitar Halmahera Tengah, Pulau Makian dan perairan Tidore bagian selatan.
- Di Bacan, daerah penangkapan meliputi perairan sekitar Selat Obi dan Laut Maluku.
- Di Sanana, daerah penangkapan meliputi perairan sekitar Sula dan Laut Seram
- Di Buli, daerah penangkapan meliputi perairan pada Laut Halmahera.
- Di Morotai, daerah penangkapan meliputi perairan Pasifik Selatan dan Laut Halmahera.
Sedangkan musim penangkapan untuk pelagis besar dilakukan sepanjang tahun dengan musim puncak sebagai berikut :
|
1.
2.
3.
4.
|
Ternate dan Tidore
Bacan
Sula
Morotai
|
:
:
:
:
|
Januari - Februari dan September - Oktober
Pebruari - Mei dan September - Oktober
Pebruari - April dan September - Desember
Januari - April dan September - November
|
Hasil identifikasi jenis-jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan disekitar perairan pantai terdapat 98 jenis ikan, 74 diantaranya bernilai ekonomis penting, 20 jenis telah dikomersialkan, termasuk cumi-cumi (Loligo spp), teri (Stelophorus spp) dan nener bandeng (Chanos-chanos sp) serta 12 jenis ikan hias.
Pada tahun 2008 jumlah armada penangkapan yang beroperasi di wilayah Provinsi Maluku Utara sebanyak 2.885 unit (dapat di lihat pada Tabel 1).
Tabel 1. Jumlah Armada Tangkap Tahun 2008 di Provinsi Maluku Utara
|
No
|
Jenis Armada Tangkap
|
Volume (GT)
|
Jumlah (unit)
|
|
1.
2.
3.
|
Perahu tanpa Motor
Perahu Motor Tempel
Kapal Motor
|
0,5-2,0 GT
3,0-10,0 GT
< 10 GT
|
1.615
761
509
|
|
Jumlah
|
2.885
|
Dari data statistik perikanan tangkap, pada tahun 2008 jenis alat tangkap yang digunakan sebanyak 283.026,21 unit, dimana dari struktur alat tangkap yang digunakan lebih didominasi oleh alat tangkap untuk penangkapan ikan pelagis kecil.